Sukses

Inspiration

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol

Bintang.com, Jakarta Apa yang kita dapat hari ini adalah hasil dari segala sesuatu yang kita lakukan kemarin itulah yang diyakini betul oleh Danu Sofwan, pengusaha Radja Cendol yang namanya sudah dikenal seantero negeri. Cendol? Ya, jika anak-anak muda lainnya lebih memilih untuk berjualan baju ataupun cup cakes atau makanan luar negeri yang kini tengah ng-hit lainnya, maka Danu lebih melirik minuman tradisional Indonesia yang telah diakui sebagai salah satu minuman terlezat di dunia tersebut.

Siapa menyangka pilihan Danu untuk melawan arus atau tidak mengikuti tren yang ada tersebut membuahkan hasil. Di tahun 2014 Danu memulai bisnis Radja Cendol (Randol) dan hingga kini usaha franchise yang dibangun oleh pria berusia 28 tahun tersebut telah memiliki 700 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.

Melihat apa yang dicapainya saat ini mungkin terlihat sangat indah, karena kini kita hanya melihat hasilnya saja, lalu bagaimana dengan prosesnya? Danu tidak mungkin berada di titik yang saat ini kalau dia belum melewati masa-masa sulit, bahkan Danu pernah berada di fase makan hanya dengan lauk nasi dan garam atau kecap.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

"Ngeliat posisi saya yang sekarang mungkin enak, tapi jangan salah saya pernah merasa berada di titik tersulit dalam kehidupan saya dan itu rasanya sangat luar biasa," cerita Danu kepada Bintang.com. Danu yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara tersebut terlahir dari keluarga yang berkecukupan, bahkan ayah Danu sudah membelikan Danu mobil ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Namun kehidupannya berubah 90 derajat ketika sang ayah meninggal. Danu harus berhenti kuliah karena ia tidak memiliki biaya, bukan hanya itu menjadi laki-laki satu-satunya di dalam keluarga Danu yang mengaku tadinya tidak bisa apa-apa terpaksa harus bekerja keras untuk mencari uang.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

"Saya yang tadinya cuma jadi anak yang hanya menerima apapun yang dikasih orangtua tiba-tiba saja harus bersusah payah mencari pekerjaan hanya untuk makan," terang pengusaha yang belum lama ini mendapatkan penghargaan Indonesia Innovative Quality Awards 2015 sebagai The Best Innovative Traditional Drinks of The Year 2015.

Banyak hal yang telah Danu lewati hingga akhirnya bisa dibilang dia adalah salah satu pengusaha sukses yang ada di Indonesia, lalu bagaimanakah kisah perjalan hidup Danu hingga menjadi seperti sekarang ini? Berikut perbincangan Bintang.com bersama pria yang sangat ramah dan murah senyum ini.

2 dari 3 halaman

Ingin Mempromosikan Cendol ke Seluruh Dunia

Bukan hanya berniat untuk mencari uang, melalui Radja Cendol, Danu ingin semakin memperkenalkan minuman tradisional Indonesia kepada masyarakat di seluruh dunia supaya cendol juga bisa bersaing dengan minuman-minuman lainnya yang berasal dari luar negeri. Selain itu ia juga ingin membiasakan masyarakat Indonesia dengan minum susu. Kok susu? Simak perbincangan selengkapnya di bawah ini.

Ceritakan soal awal mula membangun bisnis Radja Cendol?

Radja Cendol itu sebenarnya bukan bisnis pertama. Mungkin sebelumnya sudah menjalankan hampir 10 bisnis. Dari mulai bisnis sepatu, baju, gelang, rokok elektrik, apa saja dijual untuk bisa ngasih makan keluarga. Bahkan 2013 saya sempat menjadi kuli pasir di Cianjur dengan gaji Rp 50 ribu seminggu, tidurnya di bedeng. Setelah banyaknya usaha akhirnya 2014 saya mendapatkan ide untuk membuat Radja Cendol atau Randol.

Berapa modal buat bisnis Randol?

Modalnya itu tujuh sampai delapan juta. Untuk outlet, hak nama, dan lain-lain. Saya lihat di ATM saya waktu itu cuma ada Rp 500 ribu. Saya mau minjem ke teman, tapi nggak ada yang mau minjemin karena mereka tahu saya cuma kuli pasir.

Akhirnya saya ngamen di daerah Blok M. Ngamen dapat Rp 500 ribu perhari. Dari situ tiga bulan bisa dapat Rp 3 juta. Setelah itu jadi supir dapat Rp 1,5 juta hingga akhirnya terkumpul dan buka satu outlet cendol.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Kenapa jadi tertarik dengan cendol?

Jadi 2014 itu musim bazar, saya lihat di bazar itu banyak yang dijual produk luar, jarang banget produk Indonesianya. Dari situ saya berpikir apa memang nggak ada pasar untuk produk Indonesia atau nggak ada yang berani.

Jadi menurut saya harus ada anak muda yang menggerakan itu. Harus ada anak muda yang menjual sesuatu yang asli Indonesia. Saya observasi lalu mencuatlah cendol dan rendang yang masuk dalam daftar makanan dan minuman terlezat di dunia.

Rendang itu nomor satu, dan cendol itu nomor 45. Tapi kok saya pikir nggak ada yang tahu soal kehebatan cendol yang sampai dikenal dimata dunia. Ya setelah itu fix deh saya bismillah dan memulai bisnis cendol.

Bagaimana menemukan ide untuk membuat cendol dengan kemasan yang berbeda dan bisa dibilang anak muda banget?

Saya mencari tahu bagaimana supaya cendol bisa dilirik bisa diterima sama konsumen modern saat ini. Seenggaknya bisa ada di tengah gempuran produk luar. Akhirnya saya bikin inovasi, terobosan baru. Awalnya kita ganti santan dengan susu.

Kenapa pakai susu? Saya juga ada visi misinya, Indonesia adalah negara dengan tingkat konsumsi susu terendah di ASEAN. Saya punya misi ingin berkontribusi sedikit untuk mensehatkan masyarakat Indonesia.

Lalu kita buat kemasannya yang modern. Kalau ingin usahanya sukses kita harus punya style. Terus dari mulai penamaan menu yang beda. Ada Kejendol itu keju dan cendol, terus ada Digondol Satpol itu dimana green tea dan cendol bersatu itu nampol, dan masih banyak lagi.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Kendala yang dihadapi saat pertama kali mendirikan Radja Cendol?

Kendalanya banyak banget usahanya baru banget. Berbagai macam strategi dilakukan, dari sebar flyer. Saya teriak-teriakan nawarin Randol supaya ada orang yang mau beli, tapi ternyata nggak ada yang mau beli.

Hari pertama jualan dari pagi sampai siang nggak ada yang mau beli. Akhirnya saya kepikiran orang Indonesia itu senang yang namanya diskon dan gratisan. Akhirnya saya bikin beli satu dapat tiga. Nggak lama selang beberapa menit langsung antre dan rame.

3 dari 3 halaman

Bisnis Bukan Soal Gaya-gayaan atau Ikut-ikutan

Pengalaman hidup membuat Danu Sofwan menjadi seorang anak muda yang tidak mudah menyerah, sehingga tak heran meskipun sempat mendapatkan ejekan dari teman-temannya karena bekerja sebagai kuli pasir, kini Danu bisa membuktikan bahwa kesulitannya itu hanya sebuah masa lalu. Ia pun berhasil mengganti ejekan banyak orang dengan tepukan tangan.

Hampir dua tahun berdiri boleh digambarkan sekarang ini Randol sudah sebesar apa?

Kekuatan kita memang di sosial media. Bisa dibilang hampir 60 sampai 70 persen orang itu tahu Randol dari sosial media. Bahkan media-media pun tahunya dari sosial media, setelah itu mereka meliput dan Randolnya semakin berkembang lagi.

Selain penamaan yang unik. Kita juga punya sistem struktural manajemen yang juga unik. Karena kita Radja Cendol kita mau merajai pasar tradisional Indonesia rencananya dan kita ingin sampai bisa merajai kuliner dunia, gantian, kita juga pengen nyerang.

Dan sebenarnya sudah ada permintaan sampai Spanyol, tapi itu memang masih perlu dipikirkan lagi. Kalau di Malaysia dan Singapura rencananya akhir tahun sudah launching. Sekarang ini sudah ada 700 outlet di seluruh Indonesia.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Kenapa tertarik untuk membangun franchise?

Karena saya juga ingin mengajak orang untuk bisa berwirausaha dan bisa sama-sama membudidayakan minuman asli Indonesia yang mau diakuin sama negara tetangga bahkan disana cendol lebih happening daripada di sini.

Siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Anda?

Tentu saja ibu saya. Walaupun kami cuma bisa makan pakai garam atau kecap, tapi ibu tidak pernah memperlihatkan raut muka yang sedih dan nggak pernah ngeluh.

Bahkan saya masih ingat ketika kita cuma makan pakai garam. Ibu tetap menyuapi adek saya sambil ketawa-ketawa, itu di situ saya langsung menangis. Saya ingin melihat mereka bahagia, dorongan itulah yang membuat saya terus menerus untuk berusaha.

Apa tujuan terbesar dalam hidup Anda?

Yang pasti tujuan saya usaha itu cuma dua. Saya ingin keluarga saya tidak khawatir besok mau makan apa dan kalau sakit berobatnya dimana. Jadi dari dulu sampai sekarang tujuan saya itu saya mindset di kepala saya kaya gitu dan alhamdulillah akumulasi ya. Apa yang kita dapat sekarang itu adalah akumulasi dari apa yang telah kita lakukan kemarin.

Eksklusif Danu Sofwan, Kuli Pasir yang Jadi Radja Cendol. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Menurut Anda peluang bisnis kuliner di Indonesia saat ini bagaimana?

Peluang bisnis kuliner memang nggak pernah ada matinya. Harus pintar memoles sebuah produk yang sudah ada. Kita bisa memaksimalkan potensi diri kita. Indonesia negara konsumtif banget, duitnya abis kalau nggak buat jalan ya jajan. Tapi kalau mau membangun bisnis kuliner kita harus punya keunikan atau nilai lebih.

Harapan kedepannya?

Kedepan mau bikin universitas sendiri. Sudah satu tahun belakangan ini kita garap. Kerjasama dengan beberapa enterpreneur. Mudah-mudahan tahun depan.

Kepada anak muda yang ingin memulai bisnis dan sukses dengan usaha yang dia bangun maka Danu berpesan bahwa usaha itu bukanlah ajang untuk gaya-gayaan atau ikut-ikutan. Wirausaha adalah dunia yang nggak jauh dari masalah. Berwirausaha butuh satu sifat, psikologi yang sehat. Kalau kita gampang ngeluh, gampang capek kita nggak akan bisa berwirausaha. Tapi kalau psikologi sehat kita akan bisa menghadapi segala persoalan yang ada. Satu kunci, kalau kita nggak berhasil setidaknya jangan gagal.

Tulis Komentar (1)

Kredit

  • Gadis Abdul
    Author
    Gadis Abdul