Sukses

Viral

Takut Dihukum, Wanita Muslim di Eropa Gunakan Selaput Dara Palsu

Bintang.com, Jakarta Soal keperawanan memang sempat menimbulkan pertanyaan dalam benak banyak orang. Soalnya, sebagian orang masih percaya, darah yang keluar pada saat melakukan penetrasi pertama adalah tanda keperawanan. Hal ini sempat diluruskan para dokter dan ahli, bahwa perempuan yang masih perawan tak semuanya akan berdarah pada saat kali pertama bercinta.

The Kinsey Institute pun menyatakan, berdarah atau tidaknya tergantung tebal-tipis selaput dara. Mungkin juga perlu diingat, setiap perempuan kasusnya tak akan pernah sama. Selain itu, robeknya selaput dara tak hanya disebabkan penetrasi. Tapi juga bisa terjadi karena kecelakaan. Bahkan, dilansir dari sumber yang sama, selaput dara perempuan juga bisa terkoyak hanya karena kerap berkuda dan bersepeda. 

Meskipun begitu, sebagian orang masih percaya tak ada darah saat bercinta pertama kali adalah pertanda tak lagi perawan. Keadaan diperparah ketika mereka akan merasa malu ketika memiliki anak perempuan yang sudah kehilangan keperawanannya. 

Seorang perempuan Afganistan emngungkapkan sebuah kenyataan pilu kepada RFE/RL's Radio Free Afghanistan. Di negaranya, perempuan yang tidak berdarah pada saat malam pertama akan disiksa, dipulangkan ke rumah orangtuanya, dan bahkan telinga serta hidungnya dipotong. Sedangkan Mirror menulis, sepasang suami istri di Pakistan yang tinggal di Jerman mendekam di penjara seumur hidup, karena telah mencekik anak perempuannya yang telah membeli kondom untuk bercinta dengan pacarnya. Atas dasar rasa malu, kedua orangtua itu tega mengakhiri hidup putrinya yang masih berusia 19 tahun. 

Tak heran jika imigran perempuan muslim yang tinggal di Jerman lantas ketakutan dengan ancaman siksaan dan hukuman yang akan dilakukan orantua, suami, atau mertua jika mereka tidak bisa membuktikan keperawanannya di malam pertama. Ini yang mendorong sebagian imigran perempuan di Jerman mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. 

Takut Dihukum, Wanita Muslim di Eropa Gunakan Selaput Dara Palsu | via: tumblr.com

Sebuah perusahaan di Jerman lantas melihat pasar yang bagus di kalangan wanita muslim di Eropa. Perusahaan ini membuat sebuah produk, fake-hymens; selaput dara buatan. Jadi, selaput dara palsu ini dibuat beserta darah keperawanan buatan yang tersembunyi di dalam sebuah lapisan membran super tipis, agar para perempuan muslim yang selaput daranya sudah sobek karena berbagai hal, bisa mengelabui keluarga dan suaminya. 

Para kaum hawa dapat langsung memasukkan membran tersebut ke dalam vaginanya sendiri. Ketika dia dan pasangannya melakukan penetrasi, membran tersebut akan robek dan darah buatan akan mengalir. Begitu melihat ada bercak atau tetesan darah, keluarga dan sang suami pun percaya keperawanannya masih terjaga sebelum dia menikah. 

Dilansir dari BreitBart, banyak imigran perempuan muslim di Jerman mengaku telah melakukan operasi rekonstruksi selaput dara, sebelum produk ini membanjiri pasar di Jerman. Dalam situs produk buatan Jerman itu, Virginia Care, tertulis produknya sudah terbukti aman digunakan kaum hawa dan bisa menjadi pengganti operasi rekonstruksi selaput dara yang harganya sangat mahal. 

Takut Dihukum, Wanita Muslim di Eropa Gunakan Selaput Dara Palsu | via: thedailybeast.com

Seorang pelanggan memberikan testimoni dalam situs penjualan produk itu; "jika produkmu tak pernah ada, saya tak akan bisa hidup sekarang." Dari berbagai testimoni dan iklan yang gencar dilakukan perusahaan ini, situs tersebut tak lama kebanjiran pengunjung dan juga konsumen. 

Dalam waktu singkat, Virginia Care mendulang profit yang luar biasa banyaknya. Soalnya, Clarion Project menulis, pasar produk Jerman ini tumbuh dengan pesat. Bahkan, mereka telah menjual produk ini di beberapa negara di Eropa, dengan sasaran yang masih sama, para imigran muslim. Perusahaan dari negara lain pun akhirnya tergoda untuk ikut membuat produk ini. Bahkan Vice menulis, selaput dara buatan juga diproduksi perusahaan di Cina dan Jepang.

 

Kredit

  • Karla Farhana
    Author
    Karla Farhana