Sukses

Celeb

Eksklusif, Kesiapan Ramzi Tinggalkan Dunia Hiburan

Bintang.com, Jakarta Siklus perputaran para pelaku industri hiburan terbilang sangat cepat. Mereka yang lebih dulu terjun ke ranah entertainment harus pandai-pandai mengatur strategi agar tak tergerus deretan wajah baru, dan bicara soal konsistensi, sosok Ramzi bisa jadi salah satu panutan.

***

Ya, Ramzi memang sudah cukup lama berkecimpung di industri hiburan tanah air. Sejak tahun 2000, lelaki 41 tahun itu sudah sering tampil di layar kaca sebagai pesinetron. Namanya mulai melejit saat ikut berperan di sinetron Titipan Ilahi pada 2004 silam.

Sejak itu, ayah satu anak ini terus bertransformasi dengan menjajal dunia film dan presenting. Kini, hampir 18 tahun setelah memulai karier, Ramzi masih berada di puncak popularitas sebagai pembawa acara.

Selain dukungan penuh dari keluarga dan keinginan untuk selalu menantang diri sendiri, menurut Ramzi, eksistensi yang terus terjaga di jagat entertainment tak lepas dari kemahirannya mengatur waktu tampil di layar kaca.

"Gue dari dulu terbiasa me-manage karier itu ke arah yang konsisten. Gue selalu jaga komitmen. Bentuknya? Gue tidak syuting di tempat lain. Karena dengan posisi gue sekarang kan tinggal mempertahankan. Gue sudah tidak dalam tahap untuk ambil (kerjaan) kanan-kiri," ucap Ramzi kepada Bintang.com, Rabu (10/1/2018).

Kendati demikian, Ramzi mengaku, bisa saja 2018 jadi tahun terakhirnya berkecimpung di dunia hiburan. Ke mana rencananya suami Avi Basalamah ini bakal 'hijrah'? Lalu, bagaimana pula kisah perjalanan karier Ramzi yang demikian panjang di jagat hiburan? Berikut petikan wawancana Bintang.com dengan presenter yang mengaku ogah punya akun Instagram tersebut.

1 dari 3 halaman

Ramzi Bakal Akhiri Karier di Dunia Hiburan Tahun Ini?

Memiliki kemapanan karier selama belasan tahun nyatanya tak membuat Ramzi terbuai popularitas yang sudah dimiliki. 2018, berdasarkan pengakuan Ramzi, bisa jadi tahun terakhirnya di industri hiburan.

Mapan di industri hiburan, masih nyaman atau bakal coba hal lain?

Kalau boleh jujur, 2018 ini tahun menentukan buat gue. Apakah di 2018 ini mengakhiri karier di dunia entertain dan hijrah ke tempat yang pastinya akan bermanfaat bagi orang banyak, atau tetap di dunia ini.

Ini waktunya gue uuntuk memutuskan semuanya. Memang sudah dari 1998 sampai sekarang Allah ngasih kesempatan masih bisa berada di posisi yang cukup baik dan mempertahankan (popularitas). Tapi, 2018 ini gue akan mengambil keputusan, apakah tetap atau hijrah ke profesi yang bisa mengabdi untuk orang banyak.

Bisa ngasih bocoran hijrah profesi yang dimaksud?

Ada beberapa, satu (Partai Politik) yang konsisten ngajak ngabdi di Senayan jadi calon anggota legislatif, dan itu bukan ambisi mendapatkan kekuasaan atau apa. Tapi, gue ingin sekali mengabdi untuk orang banyak, bermanfaat untuk orang banyak.

Kalau ditanya, 'Mampu nggak lu, Zi?', Insya Allah mampu. 'Modalnya apa?', Jujur, komitmen. 'Nanti di sana ngeruk duit (korupsi) segala macem?', Ngapain? Kalau mau menghasilkan uang banyak gue duduk manis syuting tiap hari.

Sudah berapa lama kepikiran untuk hijrah jadi politikus?

Sudah lama sih. Cuma kan belum waktunya, belum waktunya, dan Insya Allah tahun ini gue harus mengambil keputusan.

Selain ada tawaran, apa alasan yang membuat seorang Ramzi mau mencoba masuk ke dunia politik?

Ya itu, usia sudah semakin nambah, gue ingin banyak manfaatnya secara kongkret buat orang-orang. Bukan sebatas menghibur di atas panggung atau main film, atau sinetron, tapi pengin memberikan rasa yang lebih lagi untuk orang banyak.

Seberapa yakin seorang Ramzi mampu berkontribusi di jagat politik?

Kita ngukur diri kan, kita mampu apa nggak. Gue bilang mampu bukan hanya soal financial, tapi mampu nggak mengukur diri, dan gue membaca diri sendiri. Dari dulu, dari kuliah gue memang suka mengikuti perkembangan.

Gue nggak repot sama Instagram. Cuma main Twitter sekedarnya saja dan setiap beberapa menit gue suka buka media online ngeliat perkembangan. Jadi, Alhamdulillah sedikit banyaknya untuk hal itu gue udah tahu dan paham.

Nah, gimana caranya gue menyalurkan? Yang paling penting kan kita bisa bersuara, di sana nggak cuma duduk manis doang. Tapi, harus bersuara juga, Insya Allah gue bisa. Cuma ini kan baru keinginan, niat baik.

Apakah itu direspon baik juga sama orang lain? Belum tentu. Apa nanti akan dipilih dan jadi (anggota legislatif)? Belum tentu juga. Masih banyak proses yang dilewati. Tapi, kalau ditanya dari diri sendiri, gue ingin mengabdi.

Citra politikus saat ini sedang tidak cukup baik, ada kekhawatiran?

Itu kan beberapa oknum. Nah, kalau kita punya komitmen yang cukup baik tapi kita nggak berusaha untuk maju kan sayang. Nanti (kursi di DPR) diisi sama mereka yang tadi dipikir (punya citra buruk).

Respons keluarga bagaimana saat memutuskan meretas jalan ke politik?

Sudah, sudah, semuanya sudah setuju dan memang diserahin lagi ke gue. Tapi, ya masih istikharah. Masih nyari peluang, nyari ilmu lagi, dan lain-lainnya.

Apa dengan terjun ke politik nantinya seorang Ramzi siap meninggalkan dunia hiburan?

Gini, yang pertama, gue mau ubah pemikiran kalau teman-teman yang masuk Senayan itu saat kariernya sudah meredup dan akhirnya hijrah. Nah, gue mau hapus itu. Alhamdulillah posisi gue sekarang masih dapat kepercayaan. Tapi, gue ingin hijrah untuk mengabdi pada orang banyak.

Kalau akan balik lagi atau nggak, prioritasnya sudah mulai berbeda. Insya Allah kalau misalnya mendapat amanah dan kesempatan, prioritasnya sudah untuk kemaslahatan umat atau orang banyak. Apakah nggak bisa menghibur sama sekali? Lihat waktunya.

2 dari 3 halaman

Dukungan Keluarga untuk Karier Ramzi

Ramzi sadar benar akan besarnya peran keluarga selama ia meniti karier. Karenanya, di tengah kesibukan yang kadang kian menghimpit, sang istri, Avi Basalamah, dan putrinya, Asila Maisa Fatihah, masih tetap menjadi prioritas hidup seorang Ramzi.

Syuting striping setiap hari sampai dini hari ditambah dengan terlibat di film London Love Story 3, bagaimana waktu dengan keluarga?

Kalau Avi memang kita komitmen dari awal berumah tangga, menikah ya dengan profesi gue seperti ini. Sekarang yang lagi usia berkembang itu Asila, dan dia cukup memahami apa profesi dan kewajiban ayahnya untuk bekerja, ya syuting dan lain-lain.

Apa ada keluhan dari istri dan anak tentang kesibukan Ramzi?

Nggak. Mereka cukup mengerti kok.

Bagaimana cara Ramzi dan istri menerapkan pola didik pada Asila yang saat ini beranjak remaja?

Dulu waktu kita masih kecil kan sering ditakut-takutinin, 'Kalau nggak salat masuk neraka. lho'. Bahkan, ada komik tentang siksa alam kubur. Nah, sistem itu sering gue terima. Mungkin perkembangan anak-anak sekarang nggak bisa seperti itu.

Asila sudah sekolah, banyak ilmu yang dia dapat, belajar agama juga, nggak bisa lagi pakai sistem gitu. Sekarang yang penting mendidik anak itu, setidaknya yang gue lakukan sama Avi, kita mendidik dengan memberikan contoh, itu saja.

Dengan kita melakukan, anak otomatis akan ikut. Makanya gue dari awal, ketika Asila lahir, mulai berkembang, mulai mengerti gue sebagai ayahnya, Avi sebagai ibunya, kita keluarga, gue janjian sama Avi bagaimana caranya kita salat di depan dia biar dia terbiasa dari awal

Alhamdulillah sekarang gue nggak harus capek-capek nyuruh salat karena dia udah secara otomatis. Untuk hal yang lainnya juga seperti itu. Jadi, anak sekarang tuh harus diberikan contoh.

Ramzi kan dikenal lucu, nah kalau sebagai suami, sebagai ayah, itu seperti apa?

Nah ini, Avi sering bilang kalau di wawancara, gue itu aslinya pendiam, gue di rumah lebih banyak diam. Avi saja sebagai ibu rumah tangga yang bawel, Asila juga Alhamdulillah aktif. Gue kalau di rumah itu kayaknya diam itu enak, lebih jadi pendengar yang baik. Karena memang di atas panggung, ya gue harus profesional untuk bekerja.

Pada akhirnya, keluarga untuk seorang Ramzi itu apa?

Samalah kaya yang lain. Keluarga itu kan nggak cuma anak istri. Tapi, ada ibu, ada mertua, ipar semua kan keluarga, ya itu sangat penting. Itu orang terdepan yang ada di sekitar gue, baik kehidupan gue sebagai orang biasa, juga figur publik. Gimana gue memposisikan sebagai kepala rumah tangga, sebagai suami, sebagai ayah, juga sebagai anak. Mereka terpenting.

Apapun langkah yang bakal diambil Ramzi, entah mantap terjun ke dunia politik atau tetap berkarier di ranah hiburan tanah air, dukungan keluarga tentu tak akan lepas, tak pernah hilang. Hingga akhirnya, lompatan jauh atau langkah-langkah dekat yang dipilih tentunya sudah melalui pemikiran panjang, begitu panjang.

Tulis Komentar (5)

Kredit

  • Rivan Yuristiawan
    Author
    Rivan Yuristiawan
  • Asnida Riani
    Editor
    Asnida Riani