Sukses

Celeb

Bintang 3 Generasi, Slamet Rahardjo Kejar Materi dengan Prestasi

Bintang.com, Jakarta Nama Slamet Rahardjo seperti identik dengan perfilman Indonesia. Memulai karir sebagai aktor sejak tahun 1969, sudah puluhan film yang dibintangi oleh Slamet. Hebatnya, ia masih tetap eksis sampai saat ini. Pemilik nama lengkap Slamet Rahardjo Djarot ini mengawali kiprah aktingnya melalui dunia teater. Ia tergabung dalam Teater Populer arahan mendiang Teguh Karya. Mengejar materi lewat prestasi membuat seorang Slamet Rahardjo bisa bertahan sampai saat ini di perfilman Indonesia.

********

Melalui dunia teater,Slamet Rahardjo mantap melangkahkan kaki di bidang film. Pria kelahiran Serang, Banten, 21 Januari 1949 ini merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Salah satunya adiknya adalah Eros Djarot, yang juga sempat menekuni dunia film sebelum terjun ke politik.

Slamet yang pernah kuliah di Akademi Teater Indonesia (ATNI), dikenal total dalam berakting. Ia bisa melebur dalam peran-peran yang dibawakannya. Mengawali debutnya lewat film Wadjah Seorang Laki-Laki (1971), pria yang akrab disapa Memet ini berhasil meraih dua piala di ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Slamet Rahardjo. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Pertama di FFI 1975 sebagai Aktor Utama Terbaik lewat film Ranjang Pengantin. Kedua, juga sebagai Aktor Utama Terbaik di FFI 1983 melalui film Di Balik Kelambu. Dua film tersebut sama-sama disutradarai oleh Teguh Karya, sahabat sekaligus guru dan mentor Slamet Rahardjo di dunia teater dan film.

Tak hanya sebagai aktor, Slamet juga menekuni bidang lain di belakang layar, mulai dari bidang artistik, penulisan naskah sampai penyutradaraan. Hasilnya, kiprah Slamet Rahardjo sebagai sutradara juga tak kalah membanggakan.

Dua piala Citra pernah diraihnya. Di FFI 1985, Slamet menjadi Sutradara Terbaik melalui film Kembang Kertas dan FFI 1987 lewat film Kodrat.

Namun sejak menyutradarai Marsinah: Cry Justice di tahun 2000, Slamet lebih fokus sebagai pemain saja. Saat perfilman Indonesia sedang mati suri, Slamet masih tetap eksis di beberapa film independen dan bermain sinetron. Begitu perfilman Indonesia bangkit kembali, Slamet Rahardjo kembali eksis dan tampil di sejumlah film.

Slamet Rahardjo. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Di tahun lalu, meski bukan sebagai pemain utama Slamet Rahardjo tampil di tiga film sekaligus yaitu Hijab, Garuda Superhero dan Filosofi Kopi The Movie. Di televisi, Slamet masih mengisi program ‘Sentilan Sentilun’ bersama Butet Kertaradjasa yang mengangkat tema sejumlah permasalahan di Indonesia dengan gaya ringan dan sarat humor.

Di usia yang sudah menginjak 67 tahun, Slamet Rahardjo masih tetap produktif dan belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan dunia akting. Apa yang membuat seorang Slamet Rahardjo bisa bertahan sampai saat ini di perfilman Indonesia? Siapa orang yang paling berjasa dalam karirnya?

Apa tanggapannya mengenai hubungan artis dengan media dan apa komentarnya tentang film Indonesia di masa lalu, sekarang dan masa mendatang? Simak hasil wawancara Henry dengan Slamet Rahardjo yang ditemui Bintang.com saat sesi pemotretan Bintang 3 Generasi di SCTV Tower, Jakarta Pusat, pada 18 Februari lalu.

2 dari 3 halaman

Halaman 2

Ada kebanggaan tersendiri bagi seorang Slamet Rahardjo bisa terlibat dalam pemotretan Bintang 3 Generasi. Pria yang rendah hati dan humoris ini juga menuturkan hubungan antara artis dengan media.

Apa saja kegiatan Om Slamet sekarang ini?

Kegiatan utama saya sekarang ada tiga. Pertama, mengajar di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Kedua, jadi ketua Teater Populer, untuk meneruskan perjuangan Teguh Karya. Yang ketiga, jadi ketua Yayasan Seni Budaya Jakarta yang mengelola IKJ. Selain itu, kadang-kadang main film atau tampil di televisi.


Apa film terbaru Om Slamet?

Kalau untuk film, saya baru saja ditawari peran di film Kartini, yang disutradarai Hanung Bramantyo. Saya rencananya bermain sebagai bapaknya Kartini yang diperankan sama Dian Sastrowardoyo. Tapi ini masih dalam proses nego ya, masih belum deal, hahaha. Lalu kalau di televisi masih tampil di program Sentilan Sentilun. Lalu menjelang bulan puasa nanti, siap-siap syuting sinetron PPT (Para Pencari Tuhan) lagi.


Bagaimana perasaan Om Slamet bisa menjadi salah satu ikon bidang film di pemotrean Bintang 3 Generasi ini?

Pastinya senang. Yang paling membahagiakan, di usia saya sekarang ini masih diakui eksistensinya dan dihargai sebagai one of the bintang. Menurut saya itu hal yang tidak semua orang bisa dapatkan.

(Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Sudah berapa kali Om terlibat dalam pemotretan seperti ini?

Kalau pemotretan seperti ini sudah sering saya ikuti. Pastinya berapa saya juga tidak ingat, karena sudah beberapa kali dan sudah sejak lama. Yang pasti, saya bahagia karena tidak ditinggalkan di saat beberapa teman saya sudah tidak beredar lagi.

Apa pandangan Om Slamet terhadap dunia hiburan Indonesia saat ini?

Dunia hiburan itu memang diperlukan sampai kapan saja. Tapi hendaknya kita berhati-hati, karena itu bisa menjadi vitamin atau malah menjadi wabah penyakit. Kita dulu bangsa yang produktif tapi sekarang sudah sangat konsumtif. Ini ada hubungannya sama peran media massa.


Bagaimana kaitannya dengan media massa?

Kalau menurut saya, bangkitnya atau runtuhnya rasa cinta bangsa sangat ditentukan oleh media massa. Karena guru saya paling cuma memberikan pelajaran selama tiga sampai empat jam. Begitu juga orang tua saya. Mereka paling bisa mendampingi atau memberikan pelajaran sekitar delapan jam, karena mereka kan juga harus bekerja dan punya kegiatan lain. Tapi kalau media massa, selama 24 jam selalu ada. Jadi saya harap media massa memahami tanggung jawab itu.

Apa yang diharapkan dari media massa dalam dunia hiburan?

Bisa menjadi inspirasi dan mengangkat prestasi yang positif. Konten yang ditampilkan kalau bisa memuat hal-hal seperti itu. Lalu jangan melakukan hal-hal yang menyesatkan masyarakat. Kita semua perlu uang tapi jangan sampai uang menghancurkan persahabatan kita dengan bangsa sendiri, sehingga kita kehilangan jati diri. Lalu janganlah menonjollkan pikiran-pikiran negara lain.

Slamet Rahardjo. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Bagaimana hubungan artis dengan media?

Peran media itu sangat penting. Mana mungkin saya dikenal kalau tidak ada media. Itu tidak bisa dibohongi atau dipungkiri. Kalau saya tidak disiarkan atau diberitakan di media, baik di televisi, di media cetak atau media online, saya tidak akan dikenal orang. Makanya, hubungan artis dengan media sangat dekat. Karena itu, konten media harus dipelihara dengan baik.


Apa beda media dulu dan sekarang?

Dulu dan sekarang jelas sangat beda. Karena saya mendisiplinkan diri untuk tetap membaca, karena itu mengasah imajinasi. Beda dengan media sekarang yang lebih mengandalkan audio visual. Itu semua memanjakan saya, saya tinggal duduk lalu push button dan semua bisa saya lihat. Tapi dengan media cetak, saya masih mengenal kata lelah, penat, tapi masih mengenal pikiran orang lain. Sastra itu menbawa saya untuk mengasah imajinasi. Sebab kalau saya tidak punya uang, saya masih punya akal untuk mencari uang. Tapi kalau tidak punya imajinasi, miskin imajinasi, itu baru berbahaya. Saya rasa bangsa kita sekarang sudah mulai kehilangan imajinasi. Kita bisa lihat kondisi bangsa kita sekarang ini. Tokoh-tokoh kita ini banyak yang berkonflik di televisi. Jadi yang namanya media, memang terus berubah. Saya tahu kapan saya baca koran, kapan saya membuka media online. Kalau media online sebaiknya bukan indepth, karena bisa capek mata kita melihatnya. Jadi semua itu ada saatnya, kapan sat membaca koran, nonton televisi, membuka-buka media online. Jadi saya rasa semua jenis media akan hidup terus.

 

Ada masukan untuk Bintang.com?

Kalau membuka Bintang.com ini kan, saya bisa dengan gampang membuka semua informasi. Saya ingin melihat berita yang saya kehendaki. Karena itu Bintang harus besikap. Apa yang diberikan sebaiknya adalah yang terbaik untuk masyarakat. Jangan cuma ikut gelombang, dari kiri ke kanan. Tapi harus punya ciri khas sendiri.


Apa makna film bagi Om Slamet?

Film itu cerminan dari masyarakat kita. Film itu kan memindahkan apa yang ada di kehidupan sehari-hari, kita rekam dan ditampilkan dalam bentuk sebuah karya. Kelihatannya sederhana tapi sebenarnya tak semudah itu. Salah satu unsur penting dalam film itu adalah imajinasi. Film yang bisa memenuhi rasa imajinasi penonton pasti akan disukai penonton. Contohnya yang sederhana saja. Kalau saya sekedar melihat wajah Anda tanpa melakukan apa-apa tentu saya juga tidak mendapatkan banyak hal. Tapi kalau saya melihat sambil berimajinasi seperti, orang ini datang dari mana, dia pergi naik apa, dari arah mana, tinggalnya di mana, bersama siapa, apa saja persoalan yang sedang dihadapinya, kenapa dia memilih pekerjaannya sekarang ini dan masih banyak lagi. Nah, itu kan bisa jadi sebuah cerita, bisa menjadi beberapa film.

3 dari 3 halaman

Halaman 3

Slamet Rahardjo menceritakan pengalaman dan kesan-kesannya di dunia film dan perkembangan film Indonesia. Ia menegaskan tidak mungkin dirinya tidak mencari materi di bidang film, tapi tentu dengan cara-cara yang terhormat.


Bisa diceritakan kembali awal mula terjun ke film?
Saya mengawali semuanya dari dunia teater. Saya ikut Teater Populer dengan Teguh Karya. Di situ saya belajar banyak hal sampai kemudian tertarik untuk terjun ke film.


Pencapaian tertinggi di dunia film bagi Om Slamet?

Pencapaian itu bukan hanya mendapatkan piala atau penghargaan. Tapi bisa diakui eksistensi saya dan masih bisa bermain dan berkarya sampai sekarang ini jadi pencapaian yang tertinggi juga.


Siapa orang yang paling penting di karir Om Slamet?

Yang paling utama itu kakek saya. Beliau yang dulu mengenalkan saya pada dunia kesenian. Jadi waktu tinggal di Yogya, saya diajak sama kakek untuk melihat banyak panggung kesenian termasuk teater. Dari situ muncul keinginan saya untuk menjadi seorang pemain yang tampil di atas panggung. Selain itu, orangtua saya pastinya. Mereka mendukung saya untuk menekuni bidang kesenian. Walaupun saat itu bukanlah pilihan yang utama dan menjanjikan. Dan pastinya Teguh Karya. Tidak mungkin tidak, beliau yang sangat berpengaruh dalam karir saya di dunia film maupun teater.


Jujur, apakah pendapatan dari dunia film menjanjikan?

Kalau tidak menjanjikan, tak mungkin saya masih menekuni bidang film sampai sekarang ini kan, hahaha. Tapi tentunya ini bukan hanya soal uang atau materi. Kalau menurut pengalaman saya, kalau kita hanya mengejar uang kita biasanya tiba-tiba tenggelam karena kita tidak punya prestasi, karena hanya mengejar materi jadi tidak memikirkan prestasi. Kalau saya lebih memilih memelihara prestasi. Kalau itu kita lakukan, uang akan mengikuti. Jadi bohong kalau saya tidak berpikir uang. Saya berpikir uang, tapi yang terpenting adalah bagaimana saya mendapatkan uang. Bukan karena kedekatan atau karena teman, tapi karena kita memang berprestasi. Jadi bohong saja kalau ada orang yang tidak butuh uang. Tapi sebaiknya cara mendapatkannya dengan cara yang baik juga. Jangan merusak diri sendiri dengan melakukan segala sesuatu dengan cara yang instan.

Slamet Rahardjo. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Pernah merasakan masa sulit di film?

Pernah. Terutama waktu perfilman kita sedang lesu dalam waktu cukup lama. Tapi seperti saya bilang tadi, kalau kita punya prestasi pasti uang akan mengikuti kita. Saya bisa main di televisi, saya bisa mengajar atau mengerjakan hal-hal lain yang berhubungan dengan keahlian saya.


Selain aktif maih film, panggung teater dan variety show masih aktif. Apa tips agar tetap eksis?

Ya jawabannya sama seperti tadi, karena saya bisa menjaga eksistensi saya yang Alhamdulillah masih diakui sampai saat ini. Karena saya sudah melewati banyak tahap, membangun fondasi yang berlapis-lapis sehingga sulit untuk diruntuhkan sama orang lain. Jadi tiap orang bicara soal film atau akting, pasti dikaitkan dengan saya. Itu semua kan melalui proses yang panjang dan konsisten.


Melihat film Indonesia dalam tiga dekade ini. Apa perubahan yang paling signifikan?

Perubahan pastinya banyak. Dari soal teknologi saja sudah berbeda, tentunya sekarang sudah lebih maju. Tapi soal kualitas dan kepuasan penonton pasti tetap jadi yang utama. Sayangnya, yang banyak terjadi sekarang ini film kita bukanlah sebuah moving pictures atau gambar-gambar yang bergerak. Istilah film itu kan moving pictures. Tapi yang ada sekarang ini lebih banyak hanya sekedar kumpulan pictures atau gambar-gambar yang dirangkai menjadi satu. Hasilnya, tak lama setelah menonton filmnya, penonton sudah lupa dan tak punya kesan yang membekas terhadap film yang baru saja dia tonton. Seperti saya bilang tadi, imajinasi itu penting dalam membuat sebuah karya seni, termasuk film. Kebanyakan film di tahun-tahun dulu lebih terasa unsur imajinasinya, jadi film itu benar-benar moving pictures. Emosi kita ikut dimainkan dan film yang kita tonton masih membekas dan terkesan sampai beberapa tahun ke depan atau sampai saat ini. Jadi saya berharap kita makin banyak membuat film-film yang merupakan gambar bergerak, bukan sekedar rangkaian gambar saja.


Syuting era dahulu dan sekarang bedanya apa?

Saya rasa tidak beda jauh. Yang paling utama itu adalah disiplin soal waktu. Waktu itu selalu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Bagaimana Om Slamet melihat talenta talenta muda di film Indonesia?

Menurut saya, masyarakat Indonesia ini punya darah seni, punya rasa seni yang bagus. Ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,. Ini potensi yang bagus, tinggal bagaimana mengembangkannya.

Slamet Rahardjo. (Foto by Andy Masela/Bintang.com, Digital Imaging by Denti Ebtaviani/Bintang.com, Makeup by Makeup First Jakarta, Jas by Opi Bachtiar)

Siapa aktor dan aktris muda yang paling bagus saat ini?

Banyak aktor-aktor muda kita yang bagus-bagus. Rasanya tidak enak hati kalau saya menyebutkan nama apalagi dalam kapasitas saya sebagai aktor. Jadi begini saja, kita punya banyak aktor muda berbakat tinggal bagaimana mereka memaksimalkan potensi itu.


Target apa lagi yang ingin dicapai oleh seorang Slamet Rahardjo?

Jalani saja apa yang ada dan menjalani pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Yang jelas, saya ingin tetap berakting selama saya masih hidup dan masih mampu.

Apa harapan pesan untuk insan film Indonesia, terutama para aktor dan aktrisnya?

Pesan saya, jangan cepat puas dan selalu ingin belajar. Kita harus terus mengikuti perkembangan dan bisa menyesuaikan diri dengan baik. Lalu harus fokus dan konsisten sama pilihan kita. Jangan hanya setengah-setengah dalam berakting. Misalnya selain sebagai aktor juga berkiprah di banyak bidang lagi dan berakting atau bermain film hanya sebagai salah satu kegiatan saja. Kalau seperti itu, jangan harap bisa menampilkan akting yang baik dan maksimal. Paling hanya muncul sebentar setelah itu namanya tenggelam.


Harapan untuk film Indonesia ke depan?

Mudah-mudahan akan lebih baik lagi. Industri film sudah semakin bagus, produksi film makin banyak. Kita pasti berharap masa-masa lesu perfilman Indonesia tak akan terjadi lagi. Karena itu sineas-sineas kita seperti saya katakana tadi, harus punya imajinasi yang bagus sehingga membuat penonton terkesan dengan karya-karya mereka. Peran pemerintah dalam mengambil kebijakan juga cukup berperan. Saya menilai Presiden Jokowi cukup menaruh perhatian dalam bidang seni terutama film. Jadi saya harap pemerintah juga berperan lebih maksimal lagi dalam memajukan perfilman Indonesia.

 

 

 

 

Tulis Komentar (0)

Kredit

  • Henry Hens
    Author
    Henry Hens
  • Puput Puji Lestari
    Editor
    Puput Puji Lestari