Sukses

Viral

Editor Says: Tangisan Terakhir Bayi Debora

Bintang.com, Jakarta Cerita pilu bayi meninggal karena tak ditangani tepat waktu akibat terbentur kendala biaya kembali terjadi. Kali ini peristiwa tersebut menimpa seorang bayi mungil bernama Tiara Debora yang masih berusia empat bulan. 

Sebelum ramai diberitakan oleh media massa cerita pilu bayi Debora lebih dulu viral di dunia maya. Ya, inilah salah satu manfaat media sosial yang patut kita syukuri. Kalau kisahnya tak di share oleh banyak orang, mungkin saja kematian Debora hanya diingat oleh orangtuanya saja.

Tidak, kematian bayi Debora tak boleh hanya diingat oleh orangtuanya saja, kematian bayi Debora harus menjadi cerita yang diketahui oleh semua orang, khususnya bagi semua rumah sakit yang ada di Indonesia. Jangan gara-gara uang, kalian menutup mata melihat bayi Debora yang sedang mengalami sesak napas, tubuhnya mendingin, hingga akhirnya dia pun menyerah. 

Diduga tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal karena kendala biaya akhirnya bayi Debora menghembuskan napas terakhirnya. (Foto: Liputan6.com)

Tuhan memang lebih sayang dengan Debora. Tapi, jangan sampai cerita pilu tentang kematiannya ikut terkubur bersama jasadnya. Siapa yang tak sesak saat membaca kisah tentang bayi Debora yang dituliskan oleh pemilik akun Facebook Birgaldo Sinaga-pria yang mendapatkan langsung ceritanya dari ibu Debora, Henny Silalahi.

"DITOLAK KARENA KURANG UANG DP, BAYI DEBORA MENINGGAL DI RS MITRA KELUARGA," begitulah bunyi kalimat pembuka yang akan mengajak netizen untuk mengetahui lebih detail tentang cerita kematian bayi mungil Debora yang ditulis oleh Birgaldo Sinaga di akun Facebooknya.

Minggu dini hari, 3 September 2017, sekitar pukul 02.30 WIB, bayi Debora sesak nafas. Singkat cerita, Debora sampai di rumah sakit RS Mitra Keluarga Kalideres. Seorang dokter yang memeriksa Debora mengatakan bahwa Debora harus masuk ruang PICU. Dan dari situlah kemalangan mulai menimpa bayi Debora.

1 dari 2 halaman

Orang Miskin Dilarang Sakit

Untuk masuk ke ruang PICU ternyata tidaklah mudah. Orang yang sakit belum tentu bisa langsung masuk PICU. Hmmm, padahal kalau dipikir-pikir ruangan tersebut memang dibuat untuk merawat orang yang sedang sakit ya... Mau langsung masuk ruang PICU tanpa perlu mengeluarkan kata mohon, tolong, saya pasti akan membayar kekurangannya nanti? Kamu harus punya uang sebanyak Rp19.800.000.

Kalau nggak punya, maka kamu harus punya. Entah bagaimana caranya, mau itu meminjam, menjual rumah, menguras semua isi tabungan, dan sebagainya. Kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para petugas di rumah sakit yang meminta uang sebanyak itu ya? -Tiba-tiba pas baca cerita bayi Debora yang ditulis oleh Birgaldo Sinaga tersebut langsung pikiran mengarah ke sana-

Pastilah mereka tahu mana pasien yang mampu dan yang tidak, kan? Tapi yasudahlah, mereka mungkin hanya menjalankan prosedur dari tempat di mana mereka bekerja. 

Orangtua bayi Debora, Henny Silalahi dan Rudianto saat wawancara bersama Liputan 6 SCTV.

Ternyata benar ungkapan yang dulu mungkin sering juga kamu dengar,"Orang miskin dilarang sakit." Rumah sakit layaknya ruang VIP yang tak sembarangan orang bisa memasukinya, meskipun mereka sakit. Butuh tiket untuk masuk ke tempat tersebut, dan untuk mendapatkan tiketnya, syaratnya pun sudah pasti kebaca, kamu harus punya uang yang banyak hingga tak berseri.

Tapi, baik orang miskin atau pun kaya, pastilah nggak ada satu orang pun di dunia ini yang mau sakit. Ya, semoga kita semua selalu diberi kesehatan, sehingga tak perlu ada satu pun orang yang masuk rumah sakit. Aminn!

Dan semoga tak ada lagi kasus-kasus yang terjadi seperti yang dialami oleh bayi Debora. Karena tentu saja kasus seperti bayi Debora banyak kita dengar sebelumnya. Cerita pilu kematian bayi Debora harusnya membuka mata kita semua. Segalanya memang membutuhkan uang, tapi Tuhan tak akan menanyakan berapa banyak uang yang kamu miliki, Dia hanya akan bertanya sudah berapa banyak kebaikan yang kamu buat.

Tulis Komentar (0)

Kredit

  • Gadis Abdul
    Author
    Gadis Abdul
  • Gadis Abdul
    Editor
    Gadis Abdul