Sukses

Viral

Editor Says: Belajar Memposisikan Diri Jadi Orang Lain

Bintang.com, Jakarta Mau pura-pura menutup mata dan telinga, rasanya sudah nggak bisa, karena sejak beberapa hari lalu berita soal seorang pria yang dibakar hidup-hidup di Bekasi sudah ramai tersebar. Baik di televisi, radio, internet, koran dan sebagainya, semuanya membahas soal peristiwa mengenaskan yang menimpa seorang pria bernama M Alzahra atau Joya (30).

Apa rasanya dibakar hidup-hidup? Membayangkannya saja sudah menyeramkan, apalagi jika… “Nggak, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Ini gila.” Itulah yang mungkin ada dalam benak setiap orang yang membaca berita tersebut. “Kok bisa ya? Kok tega ya? Kok ada orang yang tega melakukan hal seperti itu?” pertanyaan itu pun terus muncul.

Katanya saat kejadian orang-orang sedang dalam emosi lantaran Joya diduga telah mencuri amplifier atau pengeras suara di Musala Al-Hidayah di Babelan, Selasa 1 Agustus 2017 petang. Tapi, seharusnya kejadian tersebut memang tidak perlu terjadi, karena Indonesia ini negara hukum, kalau memang Joya terbukti bersalah, maka bukankah cukup membawanya ke kantor polisi, tidak perlu menghajarnya lalu menyiramnya dengan bensin atau minyak tanah dan dibakar?

Dulu, waktu masih kecil, saat bertanya kepada bapak dan mama kenapa kita harus berpuasa, mereka pun menjawab dengan kalimat sederhana. “Karena di luar sana ada orang-orang yang tidak bisa setiap hari makan. Dengan berpuasa kita jadi tahu apa yang mereka rasakan, sehingga akhirnya kita pun dapat lebih mensyukuri hidup. Tidak banyak mengeluh.”

Keluarga pria korban pembakaran hidup-hidup di Bekasi. (Liputan6.com/Fernando Purba)

Jadi, tak perlu meletakkan tangan di atas kompor yang tengah menyala untuk mengetahui betapa sakitnya jika tangan ini tak sengaja terbakar, kamu hanya perlu menyalakan lilin, lalu lelehan lilin yang masih panas itu kamu tuang ke telapak tangan. Bagaimana rasanya? Panas dan sakit, bukan?

1 dari 2 halaman

Tidak Berlaku Seenaknya

Kenapa kita tidak mencoba belajar lagi soal memposisikan diri menjadi orang lain. Kita tahu dipukul itu sakit, makanya kita tak mau memukul orang karena faktanya kamu pun pastinya juga tak mau jika tiba-tiba saja ada orang lain yang memukulmu.

Dengan belajar memposisikan diri menjadi orang lain kita pun jadi tidak akan berlaku seenaknya kepada orang lain. Karena sebelum melakukan segala sesuatu pasti kita akan berpikir terlebih dahulu apa akibatnya untuk orang lain dan apa akibatnya untuk diri kita sendiri.

Editor Says: Belajar Memposisikan Diri Jadi Orang Lain. (Foto: adweek.com)

Coba lihat kasus yang menimpa Joya. Coba cari tahu siapa dia. Joya adalah seorang ayah yang kini tengah menantikan kelahiran anak keduanya. Ya, istri Joya kini tengah hamil, anak pertamanya pun masih kecil. Kalau sudah begini, maka pertanyaannya siapakah yang akan menafkahi istri dan anak-anak Joya.

Tulis Komentar (0)

Kredit

  • Gadis Abdul
    Author
    Gadis Abdul
  • Gadis Abdul
    Editor
    Gadis Abdul