Sukses

Celeb

Gunakan Dumolid, Tora Sudiro Kena Gangguan Jiwa?

Kredit (2)

Bintang.com, Jakarta Karena psikotropika jenis dumolid, Tora Sudiro harus berhadapan dengan hukum. Ia digerebek Sat Narkoba Jakarta Selatan di kediamannya bersama dengan Mieke Amalia, istrinya. Polisi ketika itu menemukan 30 butir dumolid (3 strip).

Pemeriksaan pun dilakukan. Polisi juga menggandeng Badan Narkotika Nasional untuk mengkaji beberapa kemungkinan alasan Tora menggunakan obat yang harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter tersebut.

Seperti diketahui, insomnia atau gangguan tidur menjadi alibi Tora Sudiro ketika menggunakan psikotropika tersebut. Sementara dumolid sendiri merupakan salah satu jenis obat tidur, bukan obat anti depresi atau cemas.

"Gangguan tidur itu ada dua. Satu adalah emang susah tidur, lalu ada yang bisa tidur, tapi jam 1 atau 2 bangun dan susah tidur lagi, ini masuk gangguan jiwa ringan," ujar ‎Kusman Suryakusuma, Mantan Deputi Rehab BNN di Polres Jakarta Selatan, Jumat (11/8/2017).

Tora Sudiro sebagai tersangka kepemilikan psikotropika. Polisi resmi menahan komedian dan pemeran itu, sedangkan sang istri Mieke Amalia telah dipulangkan. (Adrian Putra/Bintang.com)

Banyak sebab dan banyak pula jenis penanganan. Seperti gangguan tidur tersebut yang perlu dirincikan. Seperti sulit tidur, bisa disebabkan karena cemas atau depresi. "Mereka yang sulit tidur biasanya cemas karena takut kehilangan sesuatu yang belum hilang," ujarnya.‎

Kusman melanjutkan dengan kemungkinan kedua yaitu bagi sebagian orang yang gampang sekali bangun dan tak dapat memejamkan mata kembali. "Jika seseorang early wake up biasanya dikarenakan depresi, karena sudah ada sesuatu yang hilang," imbuhnya.

Sejak Kamis (3/8) pukul 10.00 WIB, Tora Sudiro berurusan dengan polisi akibat diduga penyahahgunaan narkoba. Mieke Amalia sudah diperbolehkan pulang, sedangkan Tora masih harus menyelesaikan kasus kepemilikan 30 butir dumolid. (Instagram/Bintang.com)

Karenanya, terhadap hal ini harus dikaji dengan seksama. Penggunaan obat secara bebas saja kemungkinan tak bisa menolong. Karenanya, Kusman berharap dari kasus Tora masyarakat bisa belajar. Tidak lagi takut untuk mendatangi psikater atau dokter jiwa.

"Ini harus dieksplore, kasih masukan, obat aja enggak bisa nolong, kalau ketagihan obat, seluruh psikotropik itu efeknya kecanduan, adiksi, kalau sudah kecanduan dosis enggak nutup. Jangan punya stigma yang gangguan jiwa yang berat aja (yang ke psikiater),"‎ tegas Kusman. Berdasarkan analisa tersebut, benarkah Tora Sudiro mengalami gangguan kejiwaan.

0 Komentar

Belum ada komentar