Sukses

Celeb

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting

Bintang.com, Jakarta Berbincang dengan Nino Fernandez seperti berbincang dengan teman lama. Tak cuma membicarakan hidupnya, Nino sering menyamakan kisah hidupnya dengan orang yang diajak ngobrol. Pengalaman hidup menuntunnya untuk menjadi aktor sederhana, bersahaja, namun syarat karya berkualitas.

*****

Terlahir di Hamburg, Jerman, 31 Januari 1984, Nino memasuki akting karena ambisi yang kuat ingin menjajal dunia film. Tanpa menoleh kiri kanan, Nino yang dikenal pertama kali sebagai video joki MTV menolak semua tawaran bermain sinetron. Impiannya untuk bermain film dipegang erat hingga kesempatan pertama datang padanya pada tahun 2007.

Nino memulai debut akting melalui film Terowongan Casablanca. Setidaknya sudah ada 22 film yang dibintanginya selama 10 tahun berkarya. Nino tak pernah putus akting sejak debutnya.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

Nino memainkan karakter Bayu film 2008 karya Rudy Soedjarwo In the Name of Love, sebuah film yang telah dibandingkan dengan film karya William Shakespeare Romeo and Juliet pada temanya. Tahun itu ia juga muncul dalam Claudia/Jasmine. 

Gejolak jiwa berkutat hebat di dirinya ketika Nino membintangi film Wa'alaikumsalam Paris. Film Wa'alaikussalam Paris menawarkan cerita cinta yang sederhana dan tak bertele-tele. Ide cerita yang lucu dan menangkap fonomena masyarakat langsung memikat. Kritik sosial atas gejala selfie di sosial media ditampilkan dengan cara apik.

Kisah cinta komedi ini diselipi nilai agama namun ditata dengan apik sehingga tak terkesan menggurui dan membosankan. Velove Vexia konsisten menjadi istri yang polos namun menjengkelkan. Semetara, Nino Fernandez juga konsisten menjadi blesteran Perancis dan Indonesia. Akting mereka meyakinkan.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

"Dua tahun belakangan ini nggak tahu kayak kesambar petir. Tiba-tiba enjoy banget nih. Gara-gara film Wa'alaikumsalam Paris. Itu enjoy banget, benar-benar masuk ke karakter, nggak ada atribut lagi. Enjoy banget. Main film berasa nikmat banget," ujar Nino saat bebincang dengan Bintang.com di Kopi Kecil, Kayu Putih, Jakpus, Senin (9/1/2017).

Terbaru, Nino tampil sekilas di film Cek Toko Sebelah. Meskipun cuma tampil sekejab Nino tak kehilangan pesonannya. Ada pertimbangan sendiri buat Nino ketika dia meneria tawaran main di film ini. Simak obrolan Puput Puji Lestari dengan Nino Fernandez eksklusif untuk Bintang.com berikut ini.

1 dari 3 halaman

Tantangan Akting

Nino Fernandez yakin sejak awal bahwa film adalah medium yang diinginkannya. Meskipun tawaran untuk bermain sinetron sudah diterimanya sejak lama, Nino bersikukuh menanti kesempatan bermain film. Dan ketika kesempatan itu tiba, Nino tak pernah sekalipun menyia-nyiakannya.

Bagaimana awalnya kamu tertarik main film?
Dulu sempat dapat tawaran untuk main sinetron, dari VJ ditawarin presenting dan main sinetron tapi nggak mau. Dari dulu memang maunya cuma main film aja. Main film itu berasa pamornya tinggi banget. Buat pembuktian itu ok banget kalau sukses main film.

Awal mulanya itu dapat langsung peran utama. Film kedua juga peran utama. Saat itu saya ngasih yang terbaik, tapi sebatas kemampuan ssaya saat itu saja. Sebatas pengetahuan film dan akting seperti apa. Nggak ada pembelajaran khusus untuk akting.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

Setelah main film, bagaimana kamu mendalami akting?
setelah dua itu langsung banyak main FTV. Gue sendiri melihat FTV sebagai latihan. Saat itu main FTV itu masih bagus, judulnya nggak anah-anah. Tapi saya paham sih kenapa produser kasih judul seperti sekarng. Kalau saya bikin FTv juga mungkin kasih judul yang seperti itu. Tapi bukan berarti harus main sekarang.

FTV dulu masih lucu dan ok. Main film dan FTV masih ok, sekarang sih enggak lagi. Banyak mantepin akting di FTV. Pendalaman naskah, cepetnya mengetahui peran dan karakter, lighting, kemera, sound, directing itu belajar di FTV. Begitu mendapat tawaran film lagi langsung asyik.

Motivasi untuk main film?
Kalau sampai beberapa tahun lalu saya bermain film sekilas untuk pendapatan uang. Yang penting orangnya serius kita main juga. Tapi dua tahun belakangan ini nggak tahu kayak kesambar petir. Tiba-tiba enjoy banget nih.

Kok bisa?
Gara-gara film Wa'alaikumsalam Paris. Itu enjoy banget, benar-benar masuk ke karakter, nggak ada atribut lagi. Enjoy banget. Main film berasa nikmat banget.

Ternyata main film kita mesti menanggalkan semua dan masuk ke dalam pribadi yang saya perankan. Yang namanya diskusi, reading, penghafalan itu sudah berubah jadi karakter sendiri. Karena kita masuk ke dalam karakter.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

Siapa yang paling berperan untuk membuat aktingmu bagus?
Semuanya harus nyambung. Saya beruntung banget kalau ketemu lawan main yang bisa memotivasi saya untuk ngasih yang terbaik. Lawan main itu penting, kalau lawan main nggak bisa ngasih emosi yang samabisa hancur, jomplang dan kita gak mmerasa tertantang.

Kalau kita ketemu lawan main yang keren, kita itu tertantang dan merasa ditarik sama dia untuk memberikan yang lebih baik. Itu yang buat saya jadi membuat saya ngin masuk ke dalam peran dan lebih mudah. Reading, acting choach itu penting dalam sebuah film menurut saya. Kita lebih dipersiapkan lagi.

Lawan main yang asyik menurut kamu?
Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, Hannah Al Rashid, Velove Vexia, Tanta Ginting, Ardinia Wirasti. Kalau ketemu Abi itu sampai sekarang saya masuk jadi karakter Stefan yang ngebayol. Nggak keluar-keluar dari karakter Stefan deh.

2 dari 3 halaman

Berubah untuk Film

Sering menjadi pemeran utama tak membuat Nino Fernandez lantas melewatkan tawaran-tawaran kecil. Ada kalanya Nino tampil sekilas untuk membantu film yang dibintanginya. Seperti untuk film Cek Toko Sebelah yang disutradarai Ernest Prakasa.

Kenapa mau main cameo di Cek Toko sebelah?
Dunia film harus saling membantu, saya belajar ketika orang minta bantuan kita harus membantu. Saya pernah disentil karena dimintai bantuan saya nggak ngebantu, hasilnya sakitnya sampai sekarang. Film yang harusnya dibantu meledak semua. Dan orang yang dipakai ya itu-itu saja yang ngebantu. Dan itu yang membuat saya berfikir saya nggak boleh kayak gitu lagi.

Ada saatnya memang kita harus membantu, ada saatnya kita cari uang. Kita dengan kualitas bisa dapatin yang pantas. Kita harus membantu karena nanti suatu saat kita juga btuh bantuan. Roda itu pasti berputar.

Bagiamana Nino melihat kualitas diri sendiri?
Kalau kita nggak bisa memberikan kualitas ya nggak ada harganya. Seperti kita ngomongin daging, ada wagyu ada lokal, dua-duanya daging sama . Tapi harga dan rasanya beda. Itu juga sama untuk film, tergantung kita mau market yang mana. Kita mesti bedain, aktor yang berkelas dan yang nggak berkelas.

Untuk jadi aktor berkelas itu rendah hati, nggak sombong, Kepribadian itu yang mungkin benar-benar dibayar sama orang-orang. Itu yang harus dijaga.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

Karakter impian?
Pengin dapat karakter yang jahat, yang membuat orang jadi benci sama saya. Sama adegan fitghting. Biar saya punya motivasi jadiin diri saya. Karena kalau nggak ada motivasi.

Saya pengin main lagi sama sutradara Benny Setiawan, Sony Gaukasa. Dia sutradara yang bisa keluarin rasa pemainnnya ke film. Sama Guntur Soeharjanto juga. Dia director yang bikin flow-nya enak banget.

Nggak pengin nyobain dunia di belakang layar?
Udah dari dulu pengin memproduseri film. Pengin directing juga. Sekarang mau directing youtube channel.

Wah, kekinian nih. Ngikutin tren?
Iya pasti ngikutin tren. Kalau kita nggak ngikutin tren ya kita ketinggalkan. Orangtua kita misalnya, nggak mau ganti hp karena udah nyaman dengan HP lawas. Padahal kan sekarang tehnologi memudahkan komunikasi kita, tapi mereka nggak mau. Nah itu yang mesti kita ubah, ngikutin perubahan zaman.

Kalau emang zamanya di Youtube, ya udah yuk kita bikin Youtube, kita ambil gambar sendiri, kita edit sendiri, mesti upload juga. Harus dipaksakan untuk mengikuti perubahan zaman. Syuting suka, ngeditnya bikin sebel, tapi mesti belajar. Kita nggak boleh lelah harus ngikuti tehnologi dan zaman.

Eksklusif, Satu Dekade Nino Fernandez Berakting. (Fotografer: Bambang E. Ros,  Stylist: Indah Wulansari, Digital Imaging: M. Iqbal Nurfajri)

Film Indonesia sangat laris tahun lau pendapatmu?
Senang ya dari segi penotnon dan jumalh film banyak tahun lalu. Sekarang, pemainnya itu-itu aja, tergantung karakter yang diperlukan. saya sapat tawaran sinetron, kalau saya mau saya bisa main sinetron, tapi udah dua yang saya tolak. Karena memang saya ingi fokusin di film. Padahal kalau dari segi uang, main sinetron itu sangat menguntungkan.

Uang dari film dipakai untuk apa?
Dulu main film abis syuting bisa langsung beli rumah, sekarang nggak bisa. Pendapatan di film itu bagusnya dibikin langsung untuk usaha. Ini yang saya sesali karena nggak dari dulu saya lupa lakukan. Kadang saya menyesal kenapa nggak dari dulu buka usaha. Tapi manusia itu nggak pernah puas. Jadi sepuluh tahun lagi mungkin saya juga ada penyesalan kenapa sekarang nggak ngelakuin ini. Yang terpentinng itu bersyukur.

Dapat banyak penghargaan akting, bagaimana perasaanmu?
Dari Bali dapat best supporting aktor, berkat film Cinta Laki-laki Biasa. Wa'alaiumsalam Paris dapat penghargaan. Benar-benar ya kalau kita fokus di film memberikan dedikasi yang lebih buntuk karakter yang kita mainkkan itu orang-orang menghargainya.

Orang-orang yang selama ini dapat penghargaan itu memang dedikasinya gila. Sebelumnya saya tak sepenuh hati karena nggak ngerti, karena keharusan saja. Kalau sekarang nggak harus, saya merasa film adalah dedikasi hidup saya.

Bukan wajah tampan dan keberuntungan yang membuat Nino Fernandez bertahan di belantara film Indonesia. Tapi kemauannya untuk berubah dan memberi yang terbaik menjadikannya sebagai jajaran pemain film berkualitas. Salut Bro! 

0 Komentar

Belum ada komentar