Sukses

Celeb

Editor Says: Rindu Keseruan Seperti Dulu, Sahabat

Kredit (2)

Bintang.com, Jakarta Berbagi selalu terasa menyenangkan, apalagi bersama orang-orang tercinta. Sebut saja mereka, sahabat. Bersama mereka, saya dapat berbagi banyak hal, mulai dari rasa suka, duka, gelak tawa hingga air mata.

Masih jelas di ingatan, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, saya selalu dikelilingi oleh mereka yang saya sebut sahabat. Kala itu, yang saya ketahui hanyalah keinginan yang begitu besar untuk kembali ke TK, bermain, bernyanyi, ngobrol ala anak kecil, membeli jamu di abang langganan dan kerap menangis karena tidak kebagian ayunan.

Ilustrasi Persahabatan. (via Dgreetings)

Selepas TK, akhirnya waktu membawa saya masuk ke sekolah dasar. Saya juga dianugerahi sahabat-sahabat yang memiliki solidaritas tinggi. Hal lain juga kian mempererat jalinan persahabatan kami yakni sebuah permainan yang kami sebut dengan James Bond. Entah dari mana kami mendapatkannya, tetapi permainan itu sebenarnya hanya saling mengejar satu sama lain.

Hingga, enam tahun berlalu, tanpa saya sadari waktu kembali membawa saya mengarungi tahapan kehidupan menjadi anak baru gede. Ya, mencicipi bangku sekolah menengah pertama. Saya mulai mengenal cinta monyet, berbagi cerita dengan sahabat karena mengagumi kakak kelas, hingga dilabrak senior perempuan yang ternyata menyukai laki-laki yang menyukai saya. Tak gentar, saya balik menggertak dia (semoga si tukang labrak membaca tulisan saya hahahaha).

Ilustrasi Persahabatan. (via Time)

Tidak terasa, saya telah menginjak tahun ketiga di SMP. Di satu sisi, sedih karena harus berpisah dengan sobat SMP, di sisi lain begitu antusias karena akan menyandang status sebagai anak SMA. Kala itu, saya dan para sahabat sama-sama berjibaku untuk menggapai mimpi mendapatkan sekolah favorit, namun beberapa dari kami gagal.

Kami tidak patah semangat, meski akhirnya tetap mendapatkan sekolah negeri. Ternyata, SMA menyuguhkan lembaran baru yang penuh warna dan kejutan. Saya mendapatkan sekumpulan sahabat yang jauh lebih 'gila'. Bersama mereka, saya mengukir kisah yang tidak pernah terbayangkan dan tentunya tidak akan bisa terlupakan sepanjang masa.

Jika harus memilih, bangku SMA mungkin menjadi masa penuh kenangan. Bagaimana tidak, saya dan para sahabat melakukan tingkah 'gila' seperti anak SMA kebanyakan. Walau terkadang nakal dan membangkang, kami tetap rajin mencatat lho hahahaha.

Uniknya, berbagai karakter ada dalam kumpulan yang kami sebut dengan Kengs. Kalau digambarkan, mereka terwakili oleh sosok jenaka, pintar, lemot, pemalu tetapi malu-maluin. Duh, betapa saya rindu kebersamaan itu.

Menghabiskan waktu hampir sepanjang hari, memori juga kami ukir di luar jam sekolah. Malam minggu berbagi waktu, entah sekedar ngumpul, makan di pinggir jalan, nongkrong ala anak SMA, ke pantai, makan siomay di bawah pohon yang legendaris dan masih banyak lagi.

Ilustrasi Persahabatan. (via India Today)

Memikirkan kenangan bersama Kengs membuat saya berpikir sejenak. Saya tahu momen suka duka itu tidak dapat kami ulang. Saya tahu kami tidak bisa berkumpul sesering dulu. Saya tahu semua ada masanya. Hingga menyadari, saya kembali harus berpisah dengan mereka ketika memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di Jakarta.

Beberapa waktu sebelum keberangkatan saya ke Jakarta, kami menghabiskan waktu dengan pergi ke pantai dan mengabadikan momen manis sekaligus sedih itu dalam bingkaian potret. Pun sesekali pulang kampung, saya menyempatkan diri untuk bertemu dan berbagi kisah yang banyak saya lewatkan.

Tibalah saya di masa sebagai mahasiswa. Lagi, saya kembali dikelilingi oleh mereka yang saya sebut sahabat. Sahabat senasib sepenanggungan. Sahabat yang juga berstatus anak rantau. Kami banyak melewatkan momen kebahagiaan, pengkhianatan, kekecewaan. Namun tidak jarang, kami melepaskan semua beban dengan menyanyi atau bahkan menangis bersama.

Ilustrasi Persahabatan. (via The Indian Express)

Jakarta mendewasakan saya. Berjuang demi memberikan yang terbaik terjawab ketika saya lulus sidang, menyandang gelar sarjana dan mendapat sambutan sangat meriah dari para sahabat. Kekecewaan dan air mata berbuah manis berkat dukungan mereka di perantauan.

Hai sobat, masa-masa kebersamaan itu tertata manis dalam ingatan saya. Meski, kita tidak lagi dapat meluangkan waktu seperti dulu, tapi kalian tahu, saya rindu keseruan dan kehangatan saat bersama kalian dulu.

Beberapa dari kalian telah berumah tangga, memiliki buah hati, dan sibuk diburu segudang pekerjaan, tetapi semoga tali persahabatan kita selalu utuh. Satu lagi, saya hanya ingin bilang, saya sayang kalian, sahabat.


Putu Elmira,

 

Editor Film Bintang.com

Editor Says: Rindu Keseruan Seperti Dulu, Sahabat

0 Komentar

Belum ada komentar